Penerapan kebijakan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) terhadap keramik impor menjadi topik yang ramai diperbincangkan dalam beberapa waktu terakhir. Kebijakan ini diusulkan oleh Komite Anti Dumping Indonesia (KADI), yang merekomendasikan pengenaan tarif BMAD sebesar maksimal 199,98 persen terhadap impor ubin keramik dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Dengan kebijakan ini, diharapkan industri keramik dalam negeri mendapatkan perlindungan dari praktik perdagangan yang merugikan dan memiliki kesempatan untuk tumbuh lebih kompetitif.

Namun, kebijakan ini juga menimbulkan pertanyaan mengenai dampak jangka panjangnya terhadap industri dan konsumen di dalam negeri, terutama dalam sektor perumahan dan properti. Mengingat keramik berperan penting dalam pembangunan, kenaikan harga material ini berpotensi mempengaruhi biaya pembangunan dan harga properti secara signifikan. Sejauh mana kebijakan BMAD ini efektif dalam mendorong daya saing industri keramik lokal, dan bagaimana pengaruhnya terhadap masyarakat sebagai konsumen akhir?

Untuk membahas isu ini lebih dalam, INDEF menyelenggarakan diskusi publik dengan topik “Menguji Rencana Kebijakan BMAD Terhadap Keramik.” Acara ini akan dilangsungkan pada hari Selasa, 16 Juli 2024, pukul 09.00-13.00 WIB di Ruang The Crown, Lantai 35, Hotel Manhattan, Jakarta Selatan. Diskusi ini juga akan disiarkan secara daring melalui platform Zoom dan YouTube, memberikan kesempatan kepada publik yang lebih luas untuk mengikuti pembahasan tersebut.

Diskusi akan dibuka oleh Imaduddin Abdullah, Direktur Kolaborasi Internasional INDEF, dan akan menampilkan sejumlah pembicara ahli di bidang industri dan ekonomi. Putu Nadi Astuti, Direktur Industri Semen, Keramik, dan Pengolahan Bahan Galian Nonlogam dari Kementerian Perindustrian, akan memberikan pandangannya mengenai industri keramik dari perspektif pemerintah. Sementara itu, Danang Prasta Danial, Ketua Komite Anti Dumping Indonesia, akan menjelaskan dasar dan alasan di balik rekomendasi BMAD terhadap impor keramik dari RRT.

Faisal Basri, seorang Ekonom Senior dari INDEF, akan memberikan analisis ekonomi mendalam mengenai dampak kebijakan ini terhadap pasar dan konsumen dalam negeri. Sementara itu, Andry Satrio Nugroho, Kepala Center of Industry, Trade, and Investment INDEF, akan mengulas lebih lanjut terkait strategi yang dapat diambil industri untuk tetap kompetitif di pasar global.

Acara ini akan dimoderatori oleh Riza A Pujarama, peneliti dari INDEF, yang akan memandu jalannya diskusi agar dapat memberikan wawasan komprehensif bagi para peserta, baik yang hadir secara langsung maupun daring. Untuk mengikuti diskusi ini secara daring, peserta dapat mengakses tautan Zoom atau menonton siaran ulang melalui YouTube tertaut.

This site is registered on wpml.org as a development site. Switch to a production site key to remove this banner.